7 Kesalahan Kunci Pendiri dan CEO Saat Berbicara dengan Media
Bagi banyak pendiri dan CEO, wajah perusahaan adalah mereka sendiri. Meskipun memiliki visi yang kuat, beberapa slip of the tongue atau kesalahan strategis selama interview bisa merusak reputasi dan mengurangi peluang pers.
1. Terlalu Banyak Jargon Teknis
Saat menjelaskan produk atau strategi, kecenderungan untuk menggunakan istilah teknis dalam jumlah berlebihan bisa membingungkan audiens umum. Media mencari cerita yang bisa dipahami pembaca lebar, bukan teknis mendalam.
2. Menjawab Pertanyaan yang Tidak Ada
Menjawab pertanyaan yang belum atau tidak akan pernah diajukan, atau mempertahankan narasi yang sudah usang, justru membuat interview terasa staged dan tidak autentik.
3. Mengabaikan Konteks Media Setiap outlet memiliki sudut pandang dan audiensnya. Menyebarkan satu pesan sama untuk semua media akan membuat interview terasa umum dan kurang memikat.
4. Emosi yang Terbuka Terlalu Luas
Mengungkap frustrasi atau sengaja mengekspos sengketa internal perusahaan selama interview bisa berbahaya. Itu bisa merusak reputasi dan membuat media fokus pada drama rather than nilai bisnis.
5. Tidak Menyiapkan "Key Messages"
Tanpa titik utama yang sudah disusun, percakapan bisa meandering dan kehilangan dampak. CEO harus selalu memiliki 3 poin kunci yang ingin disampaikan.
6. Menganggap Semua Interview Secara Sama
Setiap interview memiliki tujuan berbedaโsome for brand awareness, some for product launch, some for crisis management. Strategi harus disesuaikan.
7. Melupakan Follow-up
Interview tidak berhenti di studio. Menyampaikan terima kasih, menyampaikan informasi tambahan, atau memberikan sumber daya setelah interview adalah tanda profesionalisme.
Kesimpulan
Menghindari kesalahan-seven ini tidak hanya melindungi credibilitas, tetapi juga memaksimalkan nilai pers yang didapat. Siapa pun bisa menguasai artis berinterview dengan pelatihan dan persiapan yang tepat.
Disadur dan dikurasi secara bebas dari liputan Entrepreneur (Business & Growth)