Paris Agreement di Ambang Dua Dekade: Apakah Negosiasi Iklim Masih Bermakna?
Sejak Perjanjian Paris ditandatangani sepuluh tahun yang lalu, dunia menantikan langkah konkret untuk membatasi peningkatan suhu global. Namun, Cop terbaru di Belém, Amazonas, menunjukkan tantangan baru di mana tujuan suhu global terlewat, sementara narasi bergeser dari komitmen nasional menjadi kebijakan internasional yang lebih luas.
Tantangan di Belém: Ketika Topik "Negosiasi" Dihapus
Pada Cop terbaru, pemegang jamu Brasil memilih menghapus isu utama yang diharapkan banyak orang hadir: rencana konkret setiap negara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Brasil berpendapat bahwa rencana ini, yang menjadi fondasi Perjanjian Paris, seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah nasional dan tidak seharusnya ditawar dalam tangan negosiasi internasional.
"In that case, it will be a very short Cop," ujar salah satu negosien senior dari Selatan Global ke The Guardian. "There is nothing to negotiate."
Moral Compass vs. Realitas Politik
Meskipun target suhu telah terlewat, para ahli sepakat bahwa Perjanjian Paris masih berfungsi sebagai kompas moral yang menentukan arah kebijakan iklim di seluruh dunia. Transparansi, tanggung jawab, dan partisipasi global tetap menjadi warisan yang tak tergantikan, bahkan ketika negosiasi teknis semakin sulit.
Takeaway Kunci
- Perjanjian Paris tetap menjadi fondasi moral, meskipun target suhu terlewat.
- Transisi dari komitmen nasional ke kebijakan global memerlukan dialog baru.
- Cop masa depan harus menemankan kesepakatan tentang bagaimana negara-negara berkontribusi dalam era baru.